Matsuri – Festival Budaya Jepang

Matsuri - Festival Budaya Jepang

Istilah Matsuri dapat diartikan festival. Matsuri (festival di Jepang) biasanya diselenggarakan untuk memperingati hari tertentu yang behubungan dengan kepercayaan Shinto atau Buddha. Namun, Matsuri lebih dari sekedar ritual kepercayaan ataupun peringatan hari penting semata. Lebih dari itu, Matsuri adalah bukti komitmen masyarakat Jepang terhadap budaya peninggalan leluhurnya.

Kegiatan dalam Matsuri

Seperti halnya festival, Matsuri di Jepang pun dilaksanakan secara massal yang bisa melibatkan ratusan atau bahkan ribuan orang. Peserta yang ikut dalam festival bukan hanya berkumpul namun aktif dalam setiap bagian. Peserta Matsuri biasanya merupakan warga yang tinggal di sekitar area festival.

Salah satu yang menarik di budaya Matsuri Jepang ini adalah peserta ataupun penonton banyak yang memakai pakaian tradisional Jepang. Mereka memakai happi, yaitu semacam baju mirip piyama dengan tulisan kanji matsuri. Umumnya happi secara khusus dipesan secara berkelompok.

Bagi para pembawa omikoshi atau miniatur kuil, mengenakan sepatu tradisional yang mirip dengan kaos kaki. Sepatu model ini sudah ada sejak zaman dahulu kala. Bahkan, di acara festival yang bertema sejarah Jepang, mereka sering mengenakan pakaian ala samurai atau orang zaman dulu.

Beberapa kegiatan Matsuri atau festival budaya di Jepang ini ada yang telah diselenggarakan sejak beratus-ratus tahun lalu sebagai persembahan kepada para dewa. Ritual kepercayaan tersebut masih tetap menjadi inti dari festival yang ada sekarang, namun dengan menambah acara lain kekinian yang meriah.

Matsuri yang berhubungan dengan kepercayaan, biasanya diadakan di suatu kuil. Kuil Shinto di Jepang lumayan banyak dengan bermacam-macam aliran. Sehingga masing-masing kuil mempunyai semacam hari penting tertentu yang perlu dirayakan. Oleh sebab itu, tampak banyak sekali jenis Matsuri yang diadakan di Jepang.

Matsuri di Jepang juga sering diadakan berdasarkan musim tiba. Meskipun dalam musim yang sama, namun penyelenggaraan festival biasanya masing-masing tempat berbeda satu dengan lainnya.

Misalnya:

  • Ketika musim dingin, diadakan beragam festival salju (yuki matsuri), khususnya daerah di kawasan utara yang lebih bersalju.
  • Ketika musim semi, bunga-bunga mulai bermekaran di seluruh penjuru Jepang lalu diadakanlah festival melihat bunga Sakura dan sebagainya (hana matsuri).
  • Ketika musim panas yang biasanya dirayakan dengan festival kembang api (hanabi taikai) dan juga festival tarian musim panas (bon odori matsuri).
  • Ketika musim gugur banyak terlihat festival musim gugur (aki matsuri) dengan pawai dan tarian.

Beberapa contoh festival yang rutin diselenggarakan di Jepang:

  • Shogatsu atau perayaan tahun baru
  • Hina Matsuri atau festival boneka yang ditujukan untuk anak-anak perempuan
  • Hanami atau menikmati Bunga Sakura
  • Kodomo no hi atau hari anak, terutama untuk anak-anak laki-laki
  • Tanabata atau festival bintang, setiap 7 Juli
  • Bon odori atau festival tarian musim panas
  • Toro nagashi atau festival penghanyutan lampion
  • Sichi-go-san (7-5-3) atau perayaan untuk anak yang berusia 3, 5, atau 7 tahun
  • Setsubun atau upacara perayaan pergantian musim

Dukungan Masyarakat Terhadap Matsuri Jepang

Keberagaman Matsuri di Jepang mendapat dukungan dari masyarakat meskipun Jepang negara negara modern dengan perkembangan teknologinya yang pesat. Namun kenyataannya hingga sejauh ini, Matsuri sebagai budaya tradisional masih terpelihara dengan baik dalam masyarakat.

Beberapa bentuk dukungan Matsuri yang diberikan oleh masyarakat terhadap pelestarian budaya di Jepang, antara lain:

  1. Masyarakat Jepang biasanya mendonasikan dana melalui kuil Shinto atau perkumpulan tertentu yang sekiranya akan menyelanggarakan acara Matsuri.
  2. Dukungan tenaga dan waktu. Masyarakat sengaja meluangkan waktu untuk membantu berbagai persiapan serta berpartisipasi dalam festival tersebut.
  3. Peminggul omikoshi biasanya pundaknya mengeras atau lecet. Namun, mereka tidak mengeluh dan tetap tertawa karena bagi mereka ini adalah cara berbagi kebersamaan dengan masyarakat sekitar

Bagaimanapun, bagi masyarakat Jepang, Matsuri sebagai bukti keterikatan sosial mereka. Matsuri di Jepang juga bisa disebut sebagai upaya untuk menjaga keharmonisan dalam masyarakat.

Masyarakat Jepang yang sejak dulu terkenal sangat homogen dan mempunyai ikatan sosial yang sangat kuat, menjadikan seseorang atau keluarga cenderung mengikuti apa yang dilakukan oleh lingkungan di sekitarnya demi menjaga keharmonisan sosial. Oleh karena itu,

Matsuri bukan hanya sekedar budaya ritual kepercayaan semata. Tetapi lebih dari itu, matsuri merupakan bukti komitmen masyarakat Jepang terhadap peninggalan leluhurnya. Secara garis besar nilai-nilai tradisional masih melekat kuat. Misalnya, di beberapa kota sering ada yosakoi matsuri (festival tari yosakoi) di mana para peserta memakai kostum kreasi baru dari kimono diiringi campuran musik tradisional dan modern.

Akan tetapi dalam penyelenggaraan Matsuri saat ini terkadang terdapat unsur-unsur modernitas pada musik, kostum, tema acara dan sebagainya, yang mulai masuk dan mengubah nuansa Matsuri seperti sebuah festival modern.

 

Matsuri Festival Budaya Jepang

Mdigital

Berbagi materi informasi dan pengetahuan digital online

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *