Pembangunan Komunitas Sosial

Teori sosial kontemporer meyakini fenomena penguatan masyarakat sipil sebagai konsekuensi kapitalisme global. Watak jahat kapitalisme harus dinetralisir dengan kekuatan penyeimbang, yaitu menguatnya masyarakat sipil. Ini tak lain, karena entitas kapitalis global pada umumnya berkait-kelindan dengan negara, mempengaruhi bagaimana negara bekerja.

Pembangunan Komunitas Sosial

Kesepakatan multinasional pada umumnya ekuivalen dengan kesepakatan kapitalis dunia; diplomasi politik antarbangsa, sejalan dengan diplomasi kapitalis. Politik dunia adalah politik kapitalis.

Saat policy sebuah negara capitalist heavy, nasib rakyat tak diuntungkan. Hidupnya diatur keputusan global yang membunuh inisiatif dan potensi domestik bahkan yang amat lokalistik. Pelan tapi pasti, kedaulatan de facto negara melemah; kesanggupannya negara melayani rakyat, terus berkurang.

Kondisi yang cenderung menghasilkan keputusan kurang ramah rakyat (penghalusan: ’anti-rakyat’), menuntut kuatnya masyarakat sipil agar tak selamanya dikorbankan.

Muncullah berbagai lembaga nonpemerintah. Pilihan karitatif berefek sesaat. Mengusung advokasi, ongkos sosialnya ternyata amat mahal (konflik vertikal dan horizontal; rawan free riders yang mau untung dari jerih-payah pejuang sosial dan politik).

Aksi budaya dalam situasi sosial yang akut, kerap ’keasyikan’ di budaya (bahkan seni) saja, bahkan ’ditunggangi budaya pop yang diusung kapitalisme global. Alih-alih melakukan ’penyadaran budaya’, karena butuh sponsor, terpaksa ’melayani’ kapitalis dengan syarat-syarat yang akhirnya mematikan substansi penguatan civil society.

Baca juga:  Melakukan Daur Ulang Dapat Dimulai dari Diri Sendiri

Dari beragam pilihan, ada pembangunan komunitas (community development-COMDEV). Dulu, ini memang ‘salah satu pilihan’ sebagaimana pilihan pegiat lembaga nonpemerintah di bidang advokasi, budaya atau karitas. Malah, COMDEV dipandang sebagai ‘pilihan lembek’, kurang popular dan kurang heroik.

Pada perkembangannya, penilaian seperti itu sirna dengan sendirinya. COMDEV, bukan sekadar sebuah pilihan, tapi solusi. Mengapa?

Karena komunitas punya watak khas. Antara lain, warga komunitas punya relationship dengan kualitasnya yang khas. Ada perikatan antar warga, selain perikatan antara warga dengan tempat mereka berada (lokalitas). Perikatan ini potensial dalam sebuah pembangunan partisipatif, yang dalam pengalaman panjang COMDEV menunjukkan efektivitas dan kecepatan dalam melakukan perubahan.

Penguatan komunitas, relatif lebih efektif dibanding yang terlalu global. Perikatan dalam sebuah komunitas, faktor penting menggalang partisipasi dalam pembangunan, menghubungkan aksi komunitas dan lingkungannya.

Ia menjadi daya dorong aksi kolektif yang berhubungan langsung dengan keterpinggiran (periferisasi) dan kemiskinan, pembangunan kapasitas dan keberlanjutan pembangunan yang ujungnya adalah kesetaraan dan kesejahteraan (sesuatu yang kerap hanya jadi impian dalam iklim negara yang kapitalistik).

Baca juga:  Masalah Polusi Air

Pegiat COMDEV memang harus memiliki kesabaran, selain keyakinan bahwa ini solusi manjur menetralisir watak jahat kapitalisme. Komunitas-komunitas yang sadar dan memiliki kapasitas memadai membangun dirinya, tidak mudah dihempas kapitalisme global. Bahkan, komunitaslah benteng terakhir sebuah bangsa, agar tidak tercerabut dari akar kerakyatannya.

 

Pembangunan Komunitas Sosial

Recommended For You

About the Author: Literasi Online

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *