Beberapa Tipe Anak Dengan Gangguan Pemusatan Perhatian (GPP)

  • Whatsapp

Gangguan Pemusatan Perhatian atau GPP (Attention Deficit Disorder) adalah gangguan yang ditandai dengan manifestasi masalah hiperaktif, impulsif, dan pemusatan perhatian yang kurang. GPP sering juga disebut hiperaktivitas. Gangguan ini sering terjadi pada usia anak-anak dibandingkan dengan orang dewasa. Ketidakmampuan berkonsentrasi pada masa anak-anak semakin menonjol pada masa sekolah ketika anak tidak berprestasi baik secara akademik.

Gangguan Pemusatan Perhatian

Bacaan Lainnya

Tulisan dari Rieny Wijayakusuma saat menjadi mahasiswi doktor bidang psikologi di Indiana University, Amerika Serikatini mencoba untuk memperkenalkan lebih jauh tentang jenis ganggguan konsentrasi yang ditulis pada majalah guru1000.

Gangguan Pemusatan Perhatian (GPP)

Anak yang mengalami gangguan konsentrasi umum tampak sangat mudah terganggu, impulsif, selalu tampak gelisah atau terlalu aktif, dan memiliki kesulitan untuk bertahan melakukan suatu tugas. Beberapa anak malah cenderung tampak melamun, dan sulit untuk mengikuti instruksi atau sulit mengendalikan dirinya sendiri.

Ada beberapa tipe anak dengan gangguan pemusatan perhatian (GPP):

1. Inattentiveness (Tidak memperhatikan)

Anak yang inattentive sering kehilangan perhatian, mudah terganggu, sering tampak melamun, atau kehilangan konsentrasi dengan cepat. Memori jangka pendek mereka terpengaruh, seringkali lupa terhadap apa yang didengarnya, terutama menghadapi multi-task atau multi-message, yaitu informasi atau tugas lebih dari satu meskipun memori jangka panjang mereka biasanya sangat bagus.

Baca juga:  Memulai Usaha Kopi Bagi Pemegang Kartu Prakerja

Akan tetapi, ketika aktivitas yang dilakukannya menarik atau merupakan sesuatu yang baru baginya, mereka dapat berkonsentrasi dengan baik dan sangat bersemangat, misalnya ketika menonton televisi atau bermain komputer.

Ada juga anak inattentive yang tampak diam dan berperilaku baik, tapi sering tidak dapat menerima materi dan kehilangan hal-hal penting dalam proses belajarnya, sehingga tanpa disadari mereka juga akan mengalami kesulitan belajar.

2. Impulsiveness (Impulsivitas)

Anak yang impulsif tidak pernah memikirkan konsekuensi dari tindakannya. Mereka cenderung suka memukul, lari, melukai, kehilangan kontrol atau merusak barang-barang, senang melakukan sesuatu hal yang dilarang.

Sikap impulsif cukup normal dialami anak berusia 2 tahun tapi umumnya setelah menginjak usia 4 tahun mereka akan mulai mampu mengendalikan perilakunya. Tetapi anak yang impulsif tidak dapat mengembangkan kontrol ini sehingga ia menjadi anak yang terlalu banyak bicara atau terlalu banyak melakukan tindakan yang kurang diterima lingkungan sosialnya.

Anak impulsif umumnya membutuhkan dan mengharapkan kepuasan sesaat, “Aku menginginkannya dan aku ingin mendapatkannya sekarang.” Mereka mengalami kesulitan untuk menunggu giliran atau menunggu orang lain melakukan hal yang dimintanya.

Baca juga:  Menjadi Orang Kaya dan Sukses Yang Diberkahi

3. Hiperactivity (Hiperaktivitas)

Anak tampak selalu sibuk, selalu aktif, selalu berlari, atau selalu bergerak. Mereka sering mengalami sulit tidur, tidak pernah kehabisan energi, sulit untuk duduk tenang, selalu bergerak, gelisah atau melompat.

Beberapa anak tampak selalu ingin menyentuh berbagai benda yang dilihatnya, dan akan bahagia jika berada di luar ruangan dimana mereka dapat berlari-lari. Semua anak pada umumnya memang sangat aktif dan antusias, tapi ada saatnya mereka beristirahat dan rileks/santai pada saat tertentu.

Anak yang benar-benar hiperaktif sangat sulit untuk rileks dan hanya dapat konsentrasi dalam jangka waktu yang sangat pendek, biasanya ketika sedang melakukan hal-hal yang disukai seperti menonton televisi, bermain komputer atau dalam situasi tertentu.

4. Distractibility (Sangat mudah terganggu)

Anak yang distractible sangat sulit untuk bertahan melakukan suatu tugas tertentu, sangat mudah terganggu meskipun oleh suara yang pelan, ada orang yang lewat, atau hal-hal yang menurutnya menarik. Bahkan ketika sedang melakukan sesuatu yang ia sukai, misalnya ketika sedang membaca atau bermain sesuatu, anak ini akan berpindah perhatian ketika ada hal yang mengganggunya dan sulit untuk konsentrasi kembali.

Baca juga:  GDP Sebagai Alat Ukur Negara Kaya atau Negara Miskin

Anak yang distractible mengalami banyak kesulitan dengan banyaknya stimulus di sekitarnya. Mereka butuh kerja keras untuk menyaring setiap suara atau cahaya. Mereka dapat bekerja dan bermain dengan baik jika hanya ada sedikit orang dan situasinya tenang.

5. Disorganization (Tidak teratur)

Anak kesulitan untuk mengendalikan diri mereka sendiri, mudah lupa, sering kehilangan barang-barang miliknya, dan seringkali bingung. Anak yang memiliki kesulitan dalam pengendalian diri tampak bingung untuk berpakaian sendiri atau berceceran ketika makan.

6. Social difficulties (Kesulitan sosial)

Anak mengalami kesulitan dalam interaksi sosial, sulit untuk memiliki waktu yang tepat untuk merasa cocok dengan teman. Kondisi mereka yang impulsif dan disorganisasi membuat mereka tidak mau mengikuti aturan dan tidak mengikuti norma sosial yang mengatur interaksinya dengan orang lain.

7. Difficulties with coordination, learning problem (Kesulitan koordinasi, masalah belajar)

Anak yang mengalami kesulitan perhatian biasanya juga mengalami gangguan dalam aspek lain, termasuk kemampuan motorik kasar maupun halus, atau mengalami kesulitan dalam belajar, misalnya kesulitan membaca, menulis atau berhitung.

Bahan bacaan

  • Diana Roe, Young Children with Attention Difficulties, Australian Early Childhood Association Inc, Canberra (1998).

 

Beberapa Tipe Anak Dengan Gangguan Pemusatan Perhatian (GPP)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

code