Kelompok Mayoritas Cenderung Dipilih Manusia

Pada suatu hari Rasulullah SAW menyampaikan hadits kudsinya kisah nabi Adam pada hari kemudian kepada para sahabat yang artinya “Wahai Adam, bangunlah dan pilihlah setiap 1000 orang, maka 1 orang ke surga dan 999 masuk ke neraka”. 

Kelompok Mayoritas Cenderung Dipilih Manusia

Kemudian para sahabat menunduk lalu menangis, dan Rasul pun menangis, tetapi kemudian Rasulullah mengatakan, wahai para sahabat angkatlah kepalamu dan ingatlah bahwa umatku bagaikan bulu putih, satu bulu putih di seekor lembu yang warnanya hitam.

Artinya umat Muhammad itu dibanding dengan seluruh umat ini sedikit. Keinginan atau kecenderungan manusia selalu bergabung pada kelompok mayoritas dan sering kali tidak selamanya kelompok mayoritas itu justru mengikuti yang sesat.

Allah SWT berfirman dalam surat Al Maidah ayat 66 yang artinya “……… Dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka”.

Jadi kebanyakan manusia kecenderunganya berbuat maksiat atau perbuatan yang mengandung kemaksiatan. Misalnya saja kita dapat mengoreksi dan meneliti di wilayah kita tinggal 1 RT, berapa orang yang rajin untuk menunaikan sholat dan rajin untuk taat kepada Allah dan berapa orang diantara teman-teman kita yang jujur dan konsisten di dalam pekerjaannya. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik.

Orang yang fasik itu yang bagaimana?, orang fasik itu adalah mereka mengaku dirinya beragama Islam, mereka mengaku dirinya beriman akan tetapi perilakunya sulit dibedakan dengan orang-orang kafir. Mereka mengaku dirinya beriman tetapi di luar hidupnya entah mencari rezeki, makannya itu tidak bedanya dengan orang kafir.

Jadi orang fasik itu adalah ia mengaku diri Islam dan mereka berbuat maksiat dan ini banyak kita temukan di masyarakat dimana kita tinggal. Berapa banyak secara jumlah di Indonesia ini yang mengaku dirinya sebagai muslim, akan tetapi belum melaksanakan secara konsisten dan bahkan berjuang untuk Islam bagian yang sedikit.

Baca juga:  Racun dan Kemusyrikan

Dalam kalangan kaum muslimin itu sendiri disebutkan “kamu lihat kebanyakan dari mereka justru bergegas atau mudah tertarik untuk berbuat dosa dan permusuhan”.

Kalau diajak untuk kebaikan betapa sulitnya, kumandang adzan senantiasa didengarkan, ajakan pengajian dimana-mana, akan tetapi perubahan moral dan akhlak dan perubahan kualitas keimanan sangat lamban betul, akan tetapi untuk diajak maksiat atau diajak untuk melanggar aturan-aturan dan kaidah-kadiah agama mereka mudah tertarik.

Mungkin ini sebabnya kebanyakan dari kaum muslimin itu dengan ayat-ayat Al qur’an ayat-ayat Allah mereka lalai, atau bahkan mereka tidak mau mengingat ayat-ayat Allah atau hadits-hadits Rasulullah. Jadi sekian banyak kaum muslimin yang bisa membaca Al qur’an banyak, akan tetapi yang mau membaca Al qur’an berapa, sangat sedikit.

Dan berapa banyak yang mau membaca dan yang mengerti isinya sangat sedikit, dan yang mengerti dan mau menegakkan Al qur’an berapa jumlahnya sangat sedikit sekali. Mudah-mudahan kita tidak termasuk kelompok mayoritas negatif ini.

Allah SWT menegaskan dalam Al qur’an, kelompok yang sedikit disini disebutkan “wama ammana ma’ahu ilia qolil”. yaitu mereka tidak beriman untuk mengikuti nabi kecuali dalam kelompok yang sedikit, yang imannya seperti nabi, seperti kaum muslimin kemudian mau berjuang jumlahnya sangat sedikit, lalu beriman seperti nabi, yakni mengatakan kebenaran dengan lantang dan menolak kejahilian-kejahilian jumlahnya sangat sedikit.

Baca juga:  Indahnya Saling Memaafkan

Bahkan banyak ayah tidak mau dan tidak berani menegur kepada anaknya yang berbuat maksiat, seorang istri yang kewalahan dan bertekuk lutut di hadapan suaminya yang melakukan maksiat, dia memilih hidup di ketiak suami yang kafir atau suami yang terus menerus berbuat maksiat.

Dalam surat Saba’ ayat 13 yang artinya “…. Dan sedikitnya sekali dari hamba-hambaku yang mau bersyukur, jumlahnya sangat sedikit”.

Untuk memiliki kemampuan Bersyukur berarti pula akan dapat mengikat nikmat yang ada, serta mengundang nikmat yang lebih besar yang belum ada sesuai dengan janji Allah SWT.

Sebagaimana Allah berfirman dalam surat Ibrahim, ayat 14 yang artinya “Dan Ingatlah, Tuhanmu memaklumkan, sesungguhnya jika kamu Bersyukur pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu dan jika kamu mengingkari ( nikmat-Ku ) maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Menurut Dr. H. Qurais Shihab, mengatakan tentang makna syukur itu mengungkapkan terima kasih dalam bentuk yang kemudian tampak dan tanggap yang memberikan nikmat kepada kita itu dia akan bahagia.

Hal-hal yang memberikan nikmat kepada kita atau pihak yang memberi itu bahagia melihat apa yang diberikan itu berbekas atau bermanfaat. Hakekat syukur adalah memiliki kesadaran bahwa semua titipan Allah harus menjadi kendaraan untuk semakin dekat dan akrab dengan Allah.

Syukurilah apapun yang diberikan Allah tanpa harus kecewa dan keluh kesah. Dan ikhtiarlah lebih sungguh-sungguh lagi dengan hati yang lapang, niscaya Allah tidak akan pernah mengecewakan hambanya yang ahli Bersyukur.

Diberikan nikmat kesehatan digunakan untuk beribadah kepada Allah SWT, maka zat yang memberikan itu Dia akan bahagia, diberikan nikmat rezeki kemudian sebahagian rezeki itu dipakai dan dipergunakan untuk jalan Allah dan yang memberikan Maha rezeki itu Dia bahagia.

Baca juga:  Hikmah Hewan Qurban

Kalau begitu bersyukur itu memang bisa kepada Allah dan juga bisa bersyukur kepada manusia. Kalau begitu mari kita koreksi diri, dan kita evaluasi kita termasuk jumlah yang banyak, tapi negatif atau termasuk jumlah yang sedikit tapi positif.

Kemungkinan juga ada satu kelompok di masyarakat mereka kebanyakan taat kepada Allah ada, kebanyakan satu kelompok di kelompok itu berjuang untuk agama Allah ada, tapi secara keseluruhan yang banyak itu yang negatif.

Rasulullah SAW pada suatu hari bersabda yang artinya “Islam datang pada awal asing, dan di akhir zaman Islam itu asing”. Orang merasa aneh jika ada orang yang bersih, orang merasa aneh jika ada orang yang berjihad, orang merasa aneh, dia terlalu jujur.

Untung besar bila ada orang yang mengasingkan diri, sahabat-sahabat bertanya, siapa ya Rasul orang yang mengasingkan diri?

Orang yang mengasingkan diri adalah orang yang tetap teguh kepada Allah dan kokoh pendirian untuk mengikuti sunnah-sunah Rasulullah dan ketika umat sudah rusak, maka nilai seseorang mukmin yang konsisten dan istiqomah seperti para mujahid fisabilillah dan gugur di medan perang.

Marilah kita hidupkan syariat Islam dalam diri kita, keluarga kita serta lingkungan masyarakat kita, mari kita berjuang kepada Allah SWT dan Rasulullah, mudah-mudahan Allah SWT menjaga kita, menolong kita, serta membela kita amin ya Robbal alamin.

 

Kelompok Mayoritas Cenderung Dipilih Manusia

Recommended For You

About the Author: Literasi Online

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *