Orang-orang Bahagia Sesungguhnya

Setiap orang pasti ingin bahagia atau beruntung. Kebahagiaan dan keberuntungan itu dibahasakan oleh Rasulullah saw dengan kata thuuba yang artinya kebaikan yang banyak, beruntung atau bahagia. Dalam kehidupan masyarakat, orang yang bahagia seringkali dikonotasikan sebagai orang yang memiliki harta atau fasilitas hidup yang memadai.

Orang-orang Bahagia Sesungguhnya

Orang-orang Bahagia

Namun Rasulullah saw menunjukkan kriteria lain dari orang yang bahagia. “Allah tidak menerima amal, kecuali amal yang dikerjakan dengan ikhlas karena Dia semata-mata dan dimaksudkan untuk mencari keridhaan-Nya” (HR. Ibnu Majah).

Melalui tulisan ini, akan kita bahas empat golongan orang yang termasuk orang yang bahagia dengan kebahagiaan yang sesungguh-sungguhnya :

1. Asing Dalam Keshalehan.

Menjadi shaleh merupakan sesuatu yang amat penting dalam kehidupan ini, karenanya para Nabi yang sudah tidak perlu kita ragukan keshalehannya masih saja berdo’a agar dimasukkan ke dalam kelompok orang-orang yang shaleh.

Menjadi orang yang shaleh dengan selalu memegang prinsip kebenaran merupakan sesuatu yang terasa asing atau aneh di tengah-tengah masyarakat yang rusak. Nabi Muhammad saw pernah dituduh gila dan tukang sihir oleh masyarakatnya yang jahiliyah, pada zaman sekarang orang jujur dibilang bodoh dan orang benar dibilang ketinggalan zaman alias jadul (jaman dulu).

Meskipun demikian berbahagialah kita bila tetap dalam keadaan shaleh meskipun terasa asing bagi orang lain, hal ini karena keshalehan merupakan sesuatu yang amat mulia.

Rasulullah saw bersabda: Berbahagialah orang-orang asing, Sahabat bertanya: siapakah orang yang asing itu Ya Rasulullah?. Jawab beliau: orang-orang shaleh ditengah orang-orang jahat yang banyak, yang mendurhakai mereka lebih banyak daripada yang mentaati mereka (HR. Ahmad).

Oleh karena itu dalam kehidupan masyarakat yang rusak, orang yang ingin memperoleh kebahagiaan yang hakiki memiliki pendirian yang kuat, ia tidak akan iarut dengan keadaan, ia bukanlah seperti bunglon yang mudah berubah warna karena pengaruh lingkungan, tapi ia seperti emas yang tetap emas, dimanapun ia berada.

Baca juga:  Indahnya Saling Memaafkan

Karenanya sikap dan pendiriannya dalam mempertahankan keshalehan amat jelas, Rasulullah saw bersabda.

Janganlah kamu menjadi orang yang “ikut-ikutan” dengan mengatakan kalau orang lain berbuat kebaikan, kami pun akan berbuat baik dan kalau mereka berbuat zalim kami pun akan berbuat zalim. Tetapi teguhkanlah dirimu dengan berprinsip, kalau orang lain berbuat kebaikan kami berbuat kebaikan pula dan kalau orang lain berbuat kejahatan kami tidak akan melakukannya (HR. At-Tirmidzi)

2. Beriman Kepada Nabi Meski Tidak Menjumpainya.

Ketika seseorang beriman kepada Nabi Muhammad saw karena hidup pada masanya dan berjumpa dengan beliau, Jika itu merupakan sesuatu yang tidak terlalu istimewa, karena mereka memang melihat langsung peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan keimanan yang membuat mereka menjadi yakin akan kebenaran misi yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw.

Karena itu keimanan kita kepada Nabi Muhammad saw menjadi amat istimewa dibanding keimanan para sahabat yang memang hidup dan berjumpa dengan beliau, hal ini karena kita yakin dan beriman kepada beliau, padahal kita tidak pernah melihat beliau. Keistimewaan ini bisa tujuh kali lebih baik dibanding beriman pada saat
berjumpa dengan beliau.

Inilah yang oleh Rasulullah saw dinyatakan sebagai kebahagiaan tersendiri sebagaimana disebutkan dalam sabdanya : Berbahagialah orang yang melihatku dan beriman kepadaku sekali. Dan Berbahagialah orang yang tidak melihatku dan beriman kepadaku, tujuh kali (HR. Ahmad, Bukhari, Ibnu Hibban dan Hakim).

Karena keimanan kepada Nabi Muhammad saw pada zaman sekarang ini sangat istimewa, maka berbagai cara dilalukan orang untuk menghambat keimanan itu, misalnya dengan menjelek-jelekan Nabi Muhammad saw agar kita menjadi ragu.

Baca juga:  Racun dan Kemusyrikan

Namun keyakinan ini tidak akan bergeser, bahkan semakin mantap bagi kita untuk meneladani kehidupan Rasulullah saw, karena memang Allah swt telah menjadikannya sebagai figur teladan yang abadi sebagaimana firman-Nya:

Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hah kiamat dan dia banyak menyebut Allah (QS. Al Ahzab)

3. Beramal Dengan Dasar llmu.

Setiap muslim amat dituntut untuk menuntut ilmu, bahkan menuntut ilmu itu tidak ada batas waktunya selama kita masih hidup sehingga tidak mengenal kata selesai dan kitapun tidak boleh merasa sudah banyak memiliki ilmu meskipun kata orang ilmu kita sudah banyak.

Karena itu, keutamaan menuntut ilmu sangat besar dalam pandangan Allah swt dan Rasul-Nya, dalam satu hadits Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa keluar dari rumahnya dalam rangka menuntut ilmu, maka ia berada di jalan Allah sampai ia kembali (HR. Bukhari dan Muslim).

Sesudah ilmu didapat, maka seorang muslim harus beramal shaleh dengan ilmunya itu sehingga ia tidak ikut-ikutan dalam bersikap dan beramal, karena semua amal manusia akan dimintai pertanggungjawaban dihadapan Allah swt, karenanya menjadi kebahagiaan tersendiri bila kita bisa beramal shaleh dengan landasan ilmu yang bisa dipertanggungjawabkan

Rasulullah saw bersabda : Berbahagialah orang yang beramal dengan ilmunya (HR. Bukhari).

4. Ikhlas

Secara harfiyah, Ikhlas berasal dari kata khalasho, yakhlushu, khuluushon yang berarti bersih tidak bercampur. Atau khaalishun yang berarti bersih-murni. Secara istilah, Qardhawi menyatakan ikhlash adalah menghendaki keridhaan Allah dalam beramal, membersihkannya dari noda individual dan duniawi. Tidak ada yang melatarbelakangi suatu amal kecuali karena Allah dan akhirat. (DR. Yusuf Al Qardawi : Niat dan Ikhlas hal. 17).

Baca juga:  Hikmah Hewan Qurban

Keikhlasan merupakan syarat untuk bisa diterimanya amal oleh Allah swt. Dalam suatu hadits, Rasulullah saw bersabda: Allah tidak menerima amal, kecuali amal yang dikerjakan dengan ikhlas karena Dia semata-mata dan dimaksudkan untuk mencari keridhaan-Nya (HR. Ibnu Majah).

Manakala keikhlasan bisa kita miliki dalam setiap amal, maka hat ini merupakan kebahagiaan tersendiri bagi kita, karena tidak ada manusia bisa menuduh negatif dari amal yang kita lakukan karena yang kita lakukan hanya karena Allah bukan karena kepentingan-kepentingan duniawi yang sesaat.

Apalagi dengan keikhlasan itu kita akan terus menerus melakukan kebaikan, baik sedikit maupun banyak orang yang melakukan, ia tidak terpengaruh oleh jumlah apalagi pujian atau celaan, inilah yang menjadi inspirasi bagi orang untuk beramal shaleh.

Rasulullah saw bersabda: Berbahagialah orang-orang yang ikhlas, mereka adalah pelita-pelita hidayah yang menjadi terang dari mereka setiap fitnah yang gelap (HR. Abu Nu’aim).

Manakala kita ikhlas dalam beramal, maka amal yang berat sekalipun akan terasa ringan untuk dikerjakan, namun tanpa keikhlasan, amal yang sebenarnya ringanpun akan terasa menjadi berat yang membuat kita tidak antusias untuk melaksanakannya.

Kebahagiaan orang yang ikhlas semakin bertambah karena dengan keikhlasannya itu keimanannya menjadi semakin sempurna dan memiliki iman yang sempurna merupakan dambaan bagi setiap mukmin.

Rasulullah saw bersabda : barangsiapa memberi karena Allah, menolak karena Allah, mencintai karena Allah, membenci karena Allah dan menikah karena Allah, maka sempurnalah imannya (HR. Abu Daud).

Dengan demikian, kita menjadi orang yang bahagia bila menjalani hidup sebagaimana yang ditentukan Allah swt.

 

Orang-orang Bahagia Sesungguhnya

Recommended For You

About the Author: Literasi Online

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *