Evaluasi Diri Saat Pergantian Tahun

Evaluasi Diri Saat Pergantian Tahun

Saat pergantian tahun tiba, alangkah baiknya momentum ini dijadikan mengevaluasi diri berbagai aktivitas yang telah dilakukan, terutama terkait dengan pengabdian kepada Allah.

Evaluasi diri sejalan dengan firman Allah berikut: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan“. (QS. 59: 18).

Ayat ini memerintahkan setiap mukmin agar melakukan evaluasi terhadap amal dan aktivitas yang telah dilakukan guna mempersiapkan diri untuk kehidupan masa depan, di dunia dan akhirat.

Evaluasi diri penting untuk peningkatan kualitas diri setiap mukmin. Dalam hal ini, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan :

Pertama, melakukan muhasabah (perhitungan), minimal secara umum terhadap berbagai fasilitas selama ini.

Kita dapat mengajukan beberapa pertanyaan, diantaranya apakah umur, harta, kesempatan dan waktu yang terpakai sudah maksimal digunakan untuk mengabdi kepada Allah? Ini perlu diperhatikan karena kesempatan hidup semakin terbatas, dan setiap orang semakin dekat dengan kematian.

Kedua, melakukan muraqabah (pengawasan) terhadap sisi lahiriyah dan batiniyah.

Ibadah dan kebaikan yang telah dilaksanakan dari sisi lahiriyah, perlu dikaji ulang, apakah amal dan ibadah tersebut telah sesuai dengan petunjuk al-Quran dan hadits,

Dari sisi batiniah, perlu diteliti kembali tentang keikhlasan melaksanakan berbagai ibadah dan kebaikan itu. Apakah pelaksanaan ibadah itu karena menjalankan perintah dan mengharapkan keridhoan Allah atau masih bercampur dengan riya’.

Keikhlasan menentukan nilai ibadah disisi Allah. Nabi Muhammad Saw bersabda, “Sesungguhnya setiap amal tergantung kepada niat, dan setiap orang dibalas sesuai dengan niatnya“. (HR. Bukhari).

Menurut Imam Nawawi dalam kitab “Arba’in Nawawi”. ada beberapa tingkatan keikhlasan orang beramal :

  • Tingkatan pertama, orang yang beramal seperti seorang hamba. Dia melakukan tugas selalu dilandasi rasa takut kepada tuannya, terutama apabila melanggar perintah dan laranganNya. Orang seperti ini beramal dilandasi rasa takut kepada kemurkaan dari azab Allah.
  • Tingkatan kedua, orang yang beramal seperti pedagang yang selalu berupaya memperoleh keuntungan dan menghindarkan kerugian. Orang seperti ini beramal karena mengharapkan pahala dan surga Allah
  • Tingkatan ketiga, orang yang beramal karena semata-mata menjalankan perintah-Nya, mengharapkan ridho dan rasa syukur kepada Allah, la menyadari banyak nikmat Allah yang telah diterimanya, sehingga wajar membalas dengan beribadah secara ikhlas.

Ketiga, memberikan mu’aqabah (sanksi) terhadap diri ketika melakukan pelanggaran dan dosa.

Ini perlu dilakukan karena mengingat azab Allah yang dahsyat dan sebagai peringatan agar tidak mengulangi dosa itu. Sanksi mesti sesuatu yang bermanfaat dan menjadi tradisi sahabat-sahabat nabi Muhammad Saw dan orang-orang saleh sesudah mereka.

Ketika berbuat dosa mereka segera bertaubat dan memberi sanksi terhadap diri mereka dengan banyak beribadah dan berbuat baik kepada sesama. Nabi bersabda, “Iringi dosa yang kamu lakukan dengan perbuatan baik, karena perbuatan baik dapat menghapus dosa“. (HR. Tirmidzi).

Keempat, Mujahadah (berjuang dan berusaha) keras melakukan perubahan dan meningkatkan kualitas diri dengan membuat program yang rapih.

Allah tidak hanya menilai hasil akhir dari amal yang dilakukan seseorang. tetapi sejak proses awal upaya itu telah dinilai dan dihargai-Nya. Orang-orang bersungguh-sungguh pada jalan Allah, termasuk untuk meningkatkan kualitas diri akan ditunjukkan Allah jalan untuk mendapatkan keridhoan-Nya.

Allah SWT berfirman, “Dan orang-orang yang ber jihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik“. (QS. 29: 69).

Kelima, Muatabah ‘alannafsi (mengkritik diri) untuk mengetahui kekurangan dan kelemahan kita dalam menjalankan Islam.

Kritikan ini berpedoman pada Al-Quran dan hadits. Misalnya, kenapa kita tidak mampu bersikap amanah, jujur, disiplin, mau bersedekah, membiasakan membaca Al-Quran, sementara orang lain mampu melakukannya. Padahal Allah memberikan potensi dan peluang yang sama kepada setiap orang.

Kritikan ini menyadarkan kita untuk segera memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri dimasa depan, sekaligus mendorong diri meneladani orang yang lebih baik dan taat dari kita.

Melalui evaluasi diri dengan beberapa langkah diatas, insya Allah peningkatan kualitas diri pada tahun depan dapat tercapai.

 

Evaluasi Diri Saat Penggantian Tahun

Recommended For You

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *